Sendiri, Sunyi, Sepi



Sebesar apapun letihku, seberat apapun lelahku. Jangan pernah bercerita pada manusia, jangan pernah mengeluh pada manusia. Karena ia punya lidah, yang kapan saja bisa berbicara. Jangan sedikitpun engkau berucap, jangan sepatah katapun engkau sampaikan. Karena pada akhirnya, kalimat- kalimatmu , akan sampai ke telingamu sendiri, melalui lisan yang tak mau mempertanggung jawabkan.

Ketika semua sudah terasa sangat melelahkan. Untuk apa meminta jawaban. Saat lisanku sudah terdiam, apa gunanya sebuah penjelasan.

Hanya waktu yang memahami hakikat, jawaban dibalik gelapnya malam. Meskipun beribu tahun mentari yang berjalan mengitari bumi. Cuma rembulan, yang menemani gelapnya malam. Sekuat apapun sang fajar berlari untuk mendahului.

Kadang sesal bercampur kesal, karena cerita tak sesuai asal. Lirih hati berharap besar, namun hasil tak jauh dari sabar. Bilamana harus menunggu, mimpi budak penggembala lembu. Suling dan angan pengisi waktu, terbangun mimpi pengobat rindu.

Aku adalah manusia sendirian, yang selalu bersama dengan kesepian. Sedari aku tidak dan belum bersamamu. Aku adalah insan yang terbiasa berteman dengan kesunyian. Tanpa ada suara yang menemani dalam perjalanan, jiwaku tetap ramai dalam kesendirian. Karena bagiku ramai adalah sehimpun sepi.

Bagiku kata yang berhimpun menjadi frasa, adalah keramaian yang bisa difahami dalam sunyi. Dan sastra yang terbentang dalam kitab, ialah lukisan hati yang terungkap. Mungkin, ada cerita yang belum benar- benar selesai, ada luka yang masih ingin diberi ruang untuk di fahami, pun ada memori yang layak diabadikan, bukan untuk disesali, tapi untuk disembuhkan.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Entah.... lah

harapan dan kata

Meminang bunga bunga Haraki