harapan dan kata
Mungkin, sudah lama sekali aku tidak kembali menulis di blog ini. Bukan karena kesibukan, tetapi lebih disebabkan kosong atau tidak ada ide atau apapun yang harus aku tuliskan. Mau bagaimana lagi, aku tidak memiliki pengalaman dalam hal menulis. Ditambah lagi aku baru saja menggunakan blog saat ini, yang aku rasa sudah sangat terlambat. Karena aku merasa kejayaan blog sudah tidak seperti dulu lagi, waktu dimana aku masih sekolah SMP dan SMA. Sekitar tahun 2003 hingga 2010, saat itu banyak orang sedang ramai- ramainya menjadi blogger.
Sedangkan aku, tahun 2007 baru belajar menggunakan komputer, itupun harus menempuh jarak yang lumayan, untuk les atau belajar komputer. Lalu, apakah setelah itu aku bisa menulis ?, jauh sekali. Bahkan aku sendiri tidak punya komputer pribadi, aku sangat menginginkannya tetapi apalah daya aku tidak punya, karena keadaan keluarga.
Sedangkan saat itu sekitar tahun 2007, untuk bermain komputer aku harus singgah ke warnet setelah pulang sekolah. Aku membaca artikel yang terkadang aku cetak atau print dengan uang jajanku, atau uang untuk minyak keretaku. Itu yang aku lakukan ketika ada kesempatan waktu untuk bermain ke warnet, bukan bermain game online, melainkan demi sekedar bisa belajar mengetik dan membaca artikel melalui blog orang lain. Bahkan, setelah aku lulus sekolah hingga kuliah, aku belum memiliki komputer, dan tidak tahu bagaimana jika diriku berkeinginan menulis. Blog, aku hanya tahu dari membaca blog milik orang lain, membuat sendiri aku tidak bisa.
Sungguh sebuah ironi bagi diriku pada waktu itu. Sampai aku kuliah semester tiga, baru aku bisa memiliki sebuah laptop. Sedangkan menulis, aku hanya bisa menulis tugas yang diberikan oleh dosen. Untuk mengembangkan diri, dan belajar menulis waktu itu aku tidak tahu, karena aku hanya sibuk dengan rutinitasku, kuliah dan bekerja.
Sampai aku tamat kuliah, bekerja dan menikah, aku baru tersadar bahwa dulu aku sempat ingin menulis dan membuat blog pribadi. Jadi, pada saat aku menjadi guru baru aku menyadari, bahwa ada harapan dan keinginanku untuk menulis juga menjadi seorang penulis. Setelah aku menikah baru aku tersadar akan keinginanku dulu. Karena setelah menikah aku merasa memiliki kehidupanku sendiri, aku berhak untuk memutuskan apapun pilihanku. Tanpa harus takut atau merasa dibawah pengawasan orang tua. Bukan berarti aku tidak bebas memilih saat masih bersama kedua orang tuaku, melainkan aku merasa lebih dewasa dalam memutuskan segala sesuatu dalam hidupku.
Karena apapun keputusan yang aku ambil itu sepenuhnya menjadi tanggung jawabku, apapun resikonya menjadi tanggung jawab pribadiku. Disinilah aku merasa bahwa aku sudah harus memikirkan segala tindakan dan pilihanku. Setelah aku menikah dan memulai karir menjadi seorang guru, aku ingin kembali belajar menulis aku baca artikel dan sebagainya, bermain ke perpustakaan, memulai lagi belajar berbagai hal tentang menulis.
Tetapi menjadi seorang guru bagiku bukanlah sebuah pilihan yang mudah saat itu. Disatu sisi aku harus belajar menjadi seorang pendidik, disisi yang lain aku ingin belajar menuangkan isi fikiran ku, sedangkan sebagai seorang suami aku harus memenuhi kebutuhan dapur dan rumah tanggaku. Tentunya ini menjadi dilema bagi diriku sendiri, sebagaimana diketahui gaji seorang guru honorer pada waktu itu sangat tidak mencukupi kebutuhan rumah tanggaku. Sampai aku memutuskan untuk resign, dan bekerja di sebuah pabrik dekat rumahku.
Aku berfikir dengan bekerja di pabrik, keuanganku akan lebih baik. Dan keinginanku untuk menulis juga terpenuhi ternyata tidak, di pabrik aku justru merasa seperti kehilangan semua informasi. Aku merasa aku hanya bekerja seperti mesin setiap hari, informasi dan pertanyaan dalam fikiranku tidak pernah terjawab. Dan keuanganku juga tidak terpenuhi, akhirnya aku memilih resign dari pabrik. Walaupun setelah itu aku harus menganggur selama empat bulan karena tidak memiliki pekerjaan lagi. Sampai- sampai rumah tanggaku mengalami dilema, dan keributan. Hingga akhirnya aku mendapatkan pekerjaan lagi, sebagai seorang helper mobil pengantaran dan saat ini beralih sebagai driver (supir).
Justru, selama menjadi helper dan driver aku rajin menulis. Walaupun hanya menulis diary harian, aku justru banyak belajar menulis saat menjadi driver. Hampir setiap hari aku menulis buku harian. Kebiasaan yang dulu pernah aku lakukan saat SMA dan kuliah, walaupun tidak selalu. Kini selama aku bekerja disini, hampir setiap hari aku menulis di buku diary. Tak perduli apapun yang aku tuliskan, yang terpenting adalah aku tetap menulis untuk menjadikan itu sebagai kebiasaanku. Setiap hari, walaupun aku tidak tahu apa yang aku tuliskan, tidak mengerti apa yang dimaksudkan. Aku tetap akan menulis, karena memang itu adalah kesukaanku dari aku kelas lima sekolah dasar. membaca dan menulis.
Maka saat ini ketika aku sudah menjadi seorang ayah, dan walaupun aku tidak berprofesi sebagai seorang guru, atau apapun yang membuatku harus menulis. Aku akan tetap menulis dan terus belajar menulis, karena membaca dan menulis adalah kesukaanku sejak aku masih kecil. Ketika menulis, aku seperti sedang berbicara dengan diriku sendiri. Aku berfikir dan bertarung dengan fikiranku sendiri, menghayal, bahkan terkadang aku berbicara dengan diriku sendiri. Tentang apapun yang mengusik di dalam fikiranku.
Tak jarang aku menelusuri setiap perdebatanku dengan diriku sendiri hingga lewat tengah malam. Bahkan hingga menjelang subuh. Entah apa saja yang aku fikirkan, apalagi jika ada sebuah buku yang terkapar dalam genggamanku. Setidaknya Jam malam aku untuk istirahat terganggu oleh kebisingan perdebatan di dalam otakku. Hal ini sudah biasa terjadi semenjak aku masih berstatus sebagai mahasiswa. Dan saat ini aku masih meneruskan kebiasaanku menuliskan apapun yang ada didalam fikiranku. Berharap suatu saat aku mampu menjadi orang yang menelurkan karya- karya besar dari tulisan tanganku.

Komentar
Posting Komentar