Benarkah minat baca pelajar di Asahan rendah ?
Beberapa hari yang lalu, saya coba untuk berkeliling di kota kecil saya Kisaran dan Tanjung Balai. Sama seperti kegiatan saya 16 tahun yang lalu, saya masih suka untuk sekedar melihat atau ke toko- toko buku yang sering saya datangi dulu. Terkadang, saya sembari mengenang pengalaman, juga menikmati pemandangan tumpukan buku atau susunan buku yang berjejer di rak toko. Senang rasanya ketika mengenang suasana ini. Apalagi menghirup wangi kertas yang berbeda dari setiap buku baru.
Tetapi ada hal yang sedikit berbeda yang saya rasakan. Kini toko-toko buku itu tidak seramai dulu. Ketika saya dan beberapa teman- teman kuliah berburu buku di saat menunggu jam masuk kuliah. Deretan dan susunan buku tidak lagi sebanyak dulu. Lemari yang dipajangkan, atau kaca etalase yang di depan tidak lagi penuh berisi buku. Isinya sudah mulai berganti. Dahulu semua penuh dengan buku. Tetapi kini sudah berganti dengan beberapa baju. Ada yang hanya diisi dengan alat-alat tulis sekedarnya. Bahkan ada toko buku yang separuh isi bukunya sudah berganti dengan pakaian. Sebagian bukunya entah kemana, yang tersisa hanya buku- buku lama yang sudah sangat berdebu. Dan yang membuat saya merasa semakin prihatin. Hal ini tidak hanya terjadi pada satu atau dua toko buku saja. Melainkan semua toko buku yang ada di kedua kota saya, Kisaran dan Tanjung Balai. Mengingat sedari awal masa kuliah, saya selalu mengunjungi semua toko buku di kota ini. Sehingga saya hafal dan ingat satu persatu, baik toko buku yang baru maupun bekas. Yang masih buka ataupun yang sudah tidak berjualan lagi.
Tidak ada lagi kumpulan mahasiswa yang beramai- ramai mencari buku. Tidak ada anak SMA, yang datang untuk mencari novel terbaru. Hanya beberapa anak SD yang mencari kamus atau buku peta atlas untuk keperluan sekolahnya. Itupun bisa dihitung jari, saat mereka datang ditemani orang tuanya. Miris sekali rasanya, padahal masa sepuluh atau enam belas tahun yang lalu, saya masih sering bertemu dengan anak-anak SMA yang mencari novel. Atau beberapa mahasiswa yang lama memperhatikan deretan buku. Mungkin mempertimbangkan harga buku yang diinginkannya dengan jumlah uang di sakunya. Hal yang sama yang pernah saya rasakan dulu.
Entah mengapa memang hari ini, anak-anak muda lebih menyenangi untuk berkumpul dan mengobrol sambil meminum kopi di caffe. Daripada duduk untuk membaca atau mendiskusikan sebuah buku. Lalu saya bertanya dalam hati, kalau mereka tidak membaca buku, lalu darimana mereka memperoleh informasi atau mempelajari suatu ilmu. Kontras sekali pemandangan mahasiswa hari ini dengan mahasiswa beberapa tahun yang lalu. Atau sebagian mahasiswa yang saya lihat duduk, lebih sering bermain game online, sedangkan sebagian mahasiswi menonton video pendek dalam bentuk film drama. Yang terkadang terlihat seperti hasil dari buatan Artificial Inteligen (AI).
Saya tidak menutup mata, jika kemungkinan masih ada mahasiswa yang memiliki minat baca di beberapa perguruan tinggi. Karena memang, mereka diharuskan untuk menulis dalam menyelesaikan tugas-tugas kuliahnya. Terutama untuk memenuhi tugas akhir masa kuliah yang kita kenal dengan menulis skripsi. Hanya saja seperti ada pergeseran dalam hal minat baca mahasiswa yang saya perhatikan. Semasa awal saya kuliah ada tahun 2010, saya masih banyak mendapatkan mahasiswa yang berkumpul di perpustakaan umum kabupaten Asahan untuk membaca buku. Atau sekedar membuka internet untuk membaca artikel di beberapa platform blog.
Pada masa itu sedang menjamur kemudahan dalam mengakses internet yang ditandai dengan banyaknya warung internet. Ditambah lagi begitu banyak pemuda yang mulai menggunakan berbagai platform blog untuk menulis. Semenjak muncul blog pada tahun 2006, banyak anak muda yang gemar menuangkan tulisannya ke dalam blog.
Seiring berjalannya waktu, dengan semakin mudahnya akses internet, dalam bentuk voucher handphone, dan berkembangnya media sosial. Banyak orang yang mulai bergeser kecenderungan minat bacanya. Yang awalnya membaca artikel pada platform blog, beralih membaca tulisan yang terasa lebih ringkas dan sedikit. Seperti Twitter dan Facebook. Facebook yang didirikan pada tahun 2004, dan saya sendiri mulai menggunakannya pertama kali pada tahun 2007, semasa kelas satu SMA. Facebook yang memberikan kemudahan dalam memenuhi kebutuhan psikologis, sosial, dan komunikasi, dan memudahkan kita memelihara hubungan (relationship). Lebih memudahkan bagi para penggunanya yang kebanyakan adalah kaum muda, seperti mahasiswa. Dengan tulisan yang tidak terlalu panjang, lebih mudah diterbitkan, lebih cepat, dan dengan berbagai kemudahannya.
Ditambah lagi Twitter yang memberikan kebutuhan informasi cepat, dan bisa dengan mudah saling berdiskusi. Yang membuat orang mudah untuk melihat "apa yang sedang terjadi saat ini ?". Twitter membatasi ketikan hanya 140 karakter, memaksa penggunanya menyampaikan ide secara ringkas dan padat. Sehingga orang beralih ke Twitter untuk membaca berita, memantau tren bisnis, serta membagikan tautan (link) artikel menarik. Hal ini dengan cepat menggeser perhatian dan minat baca masyarakat. Dari artikel yang panjang dan mendalam, kepada tulisan dari platform yang ringkas, mudah, dan cepat. Sehingga mulai terasa, awalnya mahasiswa sering berkunjung ke toko buku, membaca buku, lalu beralih ke media sosial.
Terkadang saya temukan beberapa mahasiswa yang menulis untuk mengerjakan tugasnya. Tidak menilik atau mengambil dari sumber utama, berupa buku. Melainkan melakukan copy paste dari berbagai platform blog. Hal ini menandai mulai berkurangnya keseriusan dan berkurangnya minat baca untuk menggali lebih dalam sebuah literatur. Walaupun saya memperhatikan masih ada mahasiswa yang menghabiskan waktu untuk membaca buku atau berburu buku di beberapa toko buku.
Kini sudah 16 tahun berlalu, sudah banyak perubahan di dalam sistem pendidikan. Mulai dari kurikulum, metode belajar, dan bahan ajar. Tetapi dalam hal minat baca, bagi kalangan mahasiswa dan anak SMA yang tentunya sudah memiliki kemampuan untuk membangun nalar kritisnya. Tidak begitu banyak perubahan yang berarti. Atau mungkin semakin menurunnya minat baca mereka. Yang hal ini kemungkinan ditandai dengan berkurangnya toko- toko buku, disebabkan kurang peminat terhadap buku.
Menurunnya minat baca kalangan pemuda, hal ini ditenggarai berdasarkan survei BPS provinsi Sumatera Utara. Berdasarkan hasil survei BPS provinsi Sumatera Utara tahun 2025*, tingkat kegemaran membaca di kabupaten Asahan berada pada tingkat 58,03. Kabupaten Asahan berada diatas kabupaten Simalungun dalam hal tingkat kegemaran membaca, kabupaten Simalungun berada pada 57,62. Dan berada dibawah kabupaten labuhan batu yakni pada 58,05. Sedangkan kabupaten yang paling tinggi tingkat kegemaran membacanya tahun 2025 adalah kabupaten Nias Selatan, yang berada pada posisi 68,34. Sedangkan ada tahun 2024 kabupaten Asahan berada pada peringkat 52,32. Yang selama setahun naik dalam poin lima persen. Namun mengapa seolah hal ini berbanding terbalik dengan kenyataan hari ini, bahwa banyak pemuda yang lebih sering bermain game online dan berkumpul di cafe. Dan jarang sekali ditemukan mahasiswa yang membeli buku ataupun sekedar terlihat membaca di toko- toko buku.
Apakah mahasiswa sudah beralih dalam transaksi membeli buku. Dari membeli buku langsung ke toko buku, atau membeli secara online melalui aplikasi jual beli online. Mungkinkah saat ini sudah banyak mahasiswa yang beralih dari membaca buku fisik. Menjadi pembaca buku elektronik (ebook). Tetapi hal ini tidak bisa diketahui secara pasti, dikarenakan tidak adanya data spesifik mengenai angka transaksi atau volume pembelian buku mandiri oleh masyarakat di kabupaten Asahan. Sehingga terasa sulit untuk memastikan hal tersebut.
Meskipun begitu, masih ada hal yang membuat kita tetap optimis dengan budaya literasi di kabupaten Asahan. Seperti adanya beberapa gerakan literasi yang membantu meningkatkan budaya literasi di kabupaten Asahan. Misal, mulai bangkitnya gerakan literasi dari masyarakat. Dalam bentuk hadirnya pegiat literasi, yang secara perlahan menyadarkan tentang pentingnya meningkatkan minat baca masyarakat. Seperti, mulai tumbuh suburnya taman bacaan masyarakat, di beberapa desa di kabupaten Asahan. Dan pegiat literasi ini hadir dari kalangan masyarakat biasa, bukan dari masyarakat sipil yang ada di dalam institusi pemerintahan. Ini menandakan adanya kesadaran individual masyarakat umum untuk sadar pentingnya meningkatkan minat baca. Tentunya ini menjadi harapan baru, terutama bagi saya, yang sedari dulu memang menyukai kegiatan literasi, terutama membaca dan menulis.
Walaupun saya sendiri bukanlah seorang pendidik ataupun guru. Saya hanya masyarakat biasa yang mencintai kegiatan literasi, yang merasakan pentingnya hal ini. Dan saya melihat, menurunnya minat kita terhadap literasi terutama dikalangan pelajar dan mahasiswa. Kebanyakan mereka saat ini lebih dekat dengan teknologi yang hadir disekitar kita, yang berkembang dengan pesat. Seharusnya hadirnya menjadi baru loncatan bagi kita untuk menambah pengetahuan. Bukan sebaliknya justru membuat kita menjadi malas dalam menggali ilmu pengetahuan.
Maka kita perlu menilik kembali pertanyaan untuk diri kita sendiri tentang literasi. Apakah minat baca kita rendah ?.
________________________________________
*Survei tingkat kegemaran membaca masyarakat dan variabel penyusunnya, menurut kabupaten/ kota di provinsi Sumatra Utara 2025, www.sumut.Bps.go.id 8 Oktober 2025.

Komentar
Posting Komentar